Sabtu, 24 September 2022

Gatot Kaca

 

Gatot kaca

Angin besar dengan petir menyambar, awan hitam yang menutupi sang surya seolah tak ada lagi cahaya penerang yang menyinari bumi, Pasukan dengan senjata lengkap berbaris seolah tidak terhitung jumlahnya tengah siap bertempur, bukan pasukan manusia, bukan prajurit biasa namun pasukan raksasa dari kerajaan gilingwesi yang tengah siap menyerbu khayangan, para raksasa dengan taring yang tajam dan kuku yang siap mencabik-cabik dengan bersenjatakan kapa, sabit, pedang dan tombak serta para raksasa bersenjata gada yang tatapan matanya siap merenggut nyawa siapapun yang melintas didepanya. Para barisan raksasa dengan berbagai bentuk dan wujud yang mengerikan siap mencabik dan meremukkan lawan. Pasukan yang dipimpin oleh patih sekipu itu tengah sampai di repat kepanasan suatu tempat di khayangan yang menjadi ajang pertempuran seperti alun-alun, disana dewa indra yang gagah dengan mengendarai seekor gajah putih sebagai wahananya tengah siap menyambut kedatangan para pasukan ini, dewa indra sebagai pimpinan para dewa sudah menyiapkan para pasukan dewa-dewa khayangan yang tengah siap memegang senjata dewa yang memiliki keistimewaan masing-masing.

Dewa indra memberi peringatan kepada para raksasa untuk kembali ke kerajaan mereka, dan mengurungkan niat yang ingin menyerang khayangan dan menguasai khayangan, namun peringatan dewa indra itu malah membuat patih sekipu marah besar menyerang khayagan, perang besar antara pasukan khayangan dengan para pasukan dari gilingwesi pun tak bisa dihindari meski dewa memiliki kelebihan tidak bisa mati namun mereka masih bisa merasa sakit, dan pasukan khayangan kuwalahan menghadapi para pasukan dari negara gilingwesi yang dipimpin oleh patih sekipu tersebut, ternyata patih sekipu sangat sakti , kebal senjata dan dengan cepat bisa mengobrak abrik pasukan khayangan. Bahkan api dari dewa brahma yang selalu menjadi andalan pun dapat dikembalikan hanya dengan hentakan suara keras dari patih sekipu, dan api tersebut justru menyerang balik kepada pasukan khayangan dan mengenai para dewa. Akhirnya dewa narada sebagai wakil dari batara manikmaya menyuruh pasukan untuk mundur dan menutup pintu gerbang khayangan, namun patih sekipu masih memiliki sifat kesatria dan memberi waktu kepada para dewa jika sampai sore hari tidak ada dewa atau wakil sebagai jago para dewa yang menghadapinya maka para dewa dianggap kalah dan khayangan akan diporak porandakan. Sang resi kanekaputra atau dewa narada pun menghadap kepada batara guru sang raja bagi para dewa untuk meminta solusi, maka sang batara guru mendapat penglihatan gaib bahwa yang bisa menyelesaikan adalah pihak para pandawa, dimana arjuna yang tengah bertapa dengan kuat sehingga memiliki daya dan cahaya yang dapat memberi pencerahan di dunia, yang ditandai dengan cahaya seperti tugu yang tegak lurus menjulang keangkasa menembus awan hitam. maka sang batara guru menciptakan senjata super ampuh yang sangat dasyat kekuatannya, tidak akan ada yang mampu menahan serangan dari senjata itu, yaitu senjata kuntawijayandanu berwujud panah sakti beserta warangka atau wadahnya yang berasal dari kayu kastuba mulya yang juga memiliki kekuatan istimewa. Maka berangkatlah sang kanekaputra untuk memberikan anugrah kepada pertapa yang kuat dalam bertapa.

Di sisi lain jauh di negara amarta ternyata para pandawa sedang berduka atas apa yang dialami oleh bima yaitu tali pusar anaknya yang telah lahir dari rahim arimbi  tidak bisa dipatahkan dengan senjata apapun,  sehingga arjuna pun pergi ke tengah hutan untuk mencari solusi dari apa yang dialami oleh kakaknya tersebut. sang resi kaneka putra yang tengah terbang berkeliling untuk mencari arjuna pun melihat ada cahaya terang yang memiliki daya tarik sangat kuat yang menjulang kelangit dan dapat membuat awan hitam menyingkir, kekuatan itu seolah dapat memberikan ketenteraman dan kedamaian bagi dunia, sang kanekaputra pun tidak ragu lagi dengan cahaya ini, ia memastikan bahwa daya itu pasti berasal dari arjuna yang tengah bertapa karena jika hanya orang biasa tidak akan bisa bertapa sehebat ini hingga memberi pengaruh besar terhadap alam, maka sang kaneka putra segera turun dari langit dan menuju kepada sumber cahaya tersebut. disana sang resi kaneka putra melihat sosok kesatria tampan dengan dikelilingi oleh aura cahaya keemasan dan memiliki daya yang kuat,  maka kaneka putra segera membengunkan satria itu serta memberikan pusaka ampuh sebagai anugerah atas apa yang sudah dilakukannya yaitu bertapa dengan kuat maka satria itu berterimakasih kepada dewa narada dan mohon pamit untuk kembali ke petapralaya  yaitu salah satu dewa di negara hastina, dengan terkejut dewa narada bertanya siapa sebenarnya orang ini, maka satria itu menjawab bahwa dirinya adalah surya putra , anak dari kusir negara hastina, maka dewa narada bingung karena salah memberikan anugerah yang seharusnya diberikan kepada arjuna malah salah diberikan kepada suryaputra. Dan ia memintanya kembali namun surya putra dengan sopan menjawab bahwa apapun sabda dewa tidak boleh dicabut karena jika dicabut akan membuat para dewa tidak memiliki wibawa. Dan surya putra segera pergi.

Dewa narada pun kebingungan dan tak lama kemudian ia bertemu dengan arjuna, ia menjelaskan kepada arjuna tentang apa yang tengah terjadi dan memerintahkan arjuna mengejar surya putra yang telah membawa pusaka itu. Dengan cepat arjuna segera mengejar surya putra untuk merebut kembali senjata pusaka yang dibawa oleh surya putra. Surya putra yang telah berhadapan dengan arjuna pun tidak membiarkan arjuna merebut kembali pusaka tersebut, maka pertempuan pun terjadi antara arjuna dengan surya putra. Namun mereka seimbang dan setelah memperebutkan senjata arjuna hanya mendapatkan warangkanya saja dan surya putra mendapatkan pusaka kuntawijayandanu. Arjuna pun menemui dewa narada dan mengatakan bahwa ia hanya berhasil merebut warangkanya saja, dan arjuna menjelaskan tentang apa yang ia cari yaitu mencari anugrah dewa untuk memotong tali pusar anak bima, maka dewa narada segera mengiringi arjuna kembali ke amarta, di amarta para saudara arjuna sudah menunggu dan menyambut arjuna, bima dengan arimbi dan yudistira, kembar nakula dan sadewa , kunti bahkan sri krisna sang titisan dewa wisnu juga ikut menjaga bayi anak dari bima tersebut. maka dewa narada menganjurkan untuk memotong tal pusar itu dengan wadah dari pusaka kuntawijayandanu, karena wadahnya saja sudah sangat sakti. Ternyata tali pusar tersebut berhasil dipotong dengan wadah atau warangka dari kuntawijayandanu dan menyatu dengan tubuh anak bima. Sri krisna pun menjelaskan bahwa menyatunya wadah tersebut adalah anugrah karena akan menjadi kekuatan bagi anak bima, namun perlu diingat suatu saat hanya ada satu senjata yang mempan dan bisa membunuh anak bima yaitu senjata kuntawijayandanu yang warangkanya telah menyatu ke tubuh anak bima tersebut.

Setelah menyelesaikan permasalahan yang terjadi di amarta dewa narada mrminta bantuan kepada pandawa untuk mengalahkan raja gilingwesi dan pasukannya yang telah menyerang khayangan, bima langsung mengajukan diri dan bersedia namun dea narada menjelaskan bahwa raja gilingwesi hanya dapat dikalahkan dengan senjata dewa kuntawijayandanu beserta warangkanya, karena panah tersebut jatuh ke tangan surya putra maka yang di minta untuk menjadi jago para dewa adalah putra bima yang tubuhnya telah disinggahi warangka senjata kunta tersebut. maka dengan berat hati arimbi dan bima menyerahkan anaknya dan bersandar kepada takdir tuhan atas keselamatan anaknya.

Akhirnya dewa narada segera menemui patih sekipu yang telah menunggu diluar pintu gerbang khayangan, patih sekipu tertawa terbahak-bahak dan merasa dihina dan mengatakan bahwa dewa sudah kehilangan nalar dengan mengajukan bayi yang masih berwarna merah ke medan perang. Akhirnya dewa narada menyuruh patih sekipu untuk menunggu sebentar, dewa narada pun membawa anak bima bertemu dengan resi ramayadi yang menjadi seorang pande senjata para dewa, disana resi ramayadi disuruh membuat anak bima tersebut menjadi kuat dan dewasa agar dapat mengalahkan patih sekipu.akhirnya resi ramayadi meminta dewa narada menyuruh para dewa memasukkan senjata dewa mereka ke kawah candradimuka, para dewa pun menceburkan pusaka mereka kedalam kawah, tak lupa dewa guru atau shiwa juga memberi daya kuat kedalam kawah, disana anak bima dilebur dan dijadikan satu dengan senjata para dewa khayangan yang sangat dasyat dan dipuja untuk menjadi dewasa. Maka dengan membaca mantra sakti kawah yang menjadi wadah untuk menghukum atau neraka bagi para pendosa itu mulai bergejolak, awak hitam disertai petir dengan angin besar menjadi pertanda akan kekuatan besar yang akan lahir, tak lama kemudian dari dalam kawah muncul seorang pria perkasa dengan tubuh kekar dan padat mengambang diudara dan segera menghadap dewa narada dan resi ramayadi, beserta batara guru, ramayadi menjelaskan bahwa itu adalah anak bima dengan kekuatan super, berotot kawat tulang besi, kulit tembaga, jari setajam gunting, tangan sekuat senjata cakra, bertubuh  baja, kakinya setajam cangkul dan seluruh tubuhnya adalah pusaka senjata super kuat milik para dewa yang ikut dilebur di kawah, bocah itu diberikan pakaian lengkap berupa pusaka rompi ontokusuma yang membuatnya kebal senjata, kasut prada kacerma yan membuatnya bisa terbang, caping basunanda yang membuatnya tidak kehujanan dan tidak kepanasan serta diberi nama gatot kaca. Dan diangkat anak oleh batara guru dengan nama guru handaya da tetuka, krincing wesi, dan ia ditugaskan untuk menghadapi patih sekipu dan raja gilingwesi prabu kalapracona. Maka gatotkaca segera maju menemui patih sekipu , patih sekipu pun heran melihat gatotkaca yang masih bertubuh manusia namun bisa terbang dan bisa berada dikhayangan, maka pertempuran pun terjadi kekuatan mereka sama-sama kuat sama-sama sakti namun gatotkaca terbang dan menyambar dan mematahkan kepala patih sekipu dengan tangan kosong, para prajurit dari gilingwesi pun dapat dihalau dengan mudah oleh gatotkaca, setelah itu raja giling wesi datang untuk membantu patihnya yang tengah gugur, akirnya gatotkaca berhadapan dengan prabu kala pracona, meski pertarungan berlangsung lama karena mereka sama-sama memiliki kekuatan yang besar namun pada akhirnya gatotkaca berhasil mengalahkan prabu kala pracona. Setelah berhasil mengalahkan raja gilingwesi gatotkacadiberi anugerah untuk menjadi raja di khayangan walau hanya sekejap. Dan para pandawa pun bersyukur atas apa yang telah diterima oleh bima dan arimbi yaitu seorang putra dengan kekuatan super yang menjadi jago para dewa saat baru lahir. Kelak gatotkaca inilah yang akan meneruskan tahta kerajaan pringgandani sebagai kacanagara.   


Oleh : Riyadi Setyawan S.Sn

Share:

0 komentar:

Posting Komentar