Minggu, 11 September 2022

Wayang Kulit


 

Wayang kulit adalah sebuah karya seni warisan leluhur jawa yang berbentuk boneka yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan dan diukir/ditatah dan disungging/diberi warna sedemikian rupa dengan disangga dan digerakkan menggunakan gapit/penyangga berbahan kayu atau tanduk binatang tersebut sehingga terbentuk berbagai tokoh atau karakter sesuai yang diinginkan.

wayang sendiri berasal dari kata "wewayangan" yang berarti bayangan, hal ini sesuai dengan wujudnya dimana kulit yang di tatah/dipahat dan berada di depan layar yang disinari oleh lampu baik lampu listrik atau lampu api wayang tersebut akan memantulkan bayangan yang menarik dan indah dari balik layar. 

boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional di jawa dan biasanya dimainkan oleh seorang dalang, kurang lebih seperti itulah deskripsi wayang kulit menurut kamus besar bahasa indoesia.

Wayang kulit merupakan seni yang paling komplek dimana semua bidang seni yaitu seni rupa, seni lukis, seni musik, seni drama, seni suara, seni ukir, seni tari berkumpul menjadi satu dan dibingkai dalam satu pertunjukan wayang kulit. Tak heran jika wayang kulit ini digunakan oleh para wali termasuk sunan kalijaga sebagai media penyebaran agama islam khususnya di jawa.

Menurut sumber dari kitab atau serat arjuna wiwaha Wayang kulit sendiri sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, hal ini terbukti dengan ditemukannya prasasti di abad 11 pada zaman pemerintahan Erlangga yang menyebutkan:


“ꦲꦤꦺꦴꦤ꧀ꦠꦺꦴꦤ꧀ꦫꦶꦁꦒꦶꦠ꧀ꦩꦤꦔꦶꦱ꧀ꦄꦱꦼꦏꦼꦭ꧀ꦩꦸꦢꦲꦶꦢꦼꦥꦤ꧀꧈  ꦲꦸꦮꦸꦱ꧀ꦮꦿꦸꦃꦠꦺꦴꦮꦶꦤ꧀ꦗꦤ꧀ꦮꦭꦸꦭꦁꦆꦤꦸꦏꦶꦂꦩꦺꦴꦭꦃꦄꦔꦸꦕꦥ꧀”

“Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap”

yang artinya:

“Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara”

Petikan di atas adalah bait 59 dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa (1030). Karya sastra tersebut adalah salah satu sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kediri.

 

Meski sudah berumur ribuan tahun namun kesenian wayang kulit ini jusru semakin berkembang dan  UNESCO pun bahkan telah menetapkan pertunjukan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga sejak 7 November 2003.

Namun seiring perkembangan zaman yang semua serba digital ini banyak para generasi milenial yang sudah tidak perduli dengan kekayaan warisan leluhur yang luar biasa ini., tak hanya alur cerita, bahkan banyak para generasi muda yang tidak paham dengan bahasa wayang kulit. Banyak anak muda yang memandang sebelah mata pertunjukan wayang kulit, dan menganggapnya kuno, Padahal dalam pertunjukan wayang kulit banyak sekali mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pelajaran dan memuat ajaran kebaikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mendorong penulis untuk membuat tulisan tentang informasi terkait wayang klit dan cerita wayang kulit versi jawa dengan bahasa indonesia dengan harapan dapat mengenalkan cerita dalam seni wayang kulit warisan para leluhur dan para generasi muda dapat memahami cerita wayang dan menangkap pesan moral yang ada didalamnya sehingga akan  muncul rasa cinta terhadap budaya lokal , dan muncul rasa cinta tanah air.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar