Rabu, 21 September 2022

Bale Sigala-gala

 


Bale Gala-Gala

Pagi yang cerah dengan angin segar, kicau burung menghiasi pagi yang cerah di negara hastina, pagi itu adalah pertemuan agung di pendopo negara hastina, pendopo yang indah dengan berbagai ukiran dan hiasan berbahan emas, lantai yang dilapisi dengan permadani dan bertaburan bunga yang harum, dengan iringan swara gamelan pakurmatan atau gamelan yang digunakan untuk penghormatan,para punggawa kerajaan bersiap hadir untuk pertemuan besar dengan raja yang agung di negara hastinapura. Para wiku, para guru , dan penasehat datang dengan dihormati, para senopati agung datang dengan gagahnya, dan para keluarga bangsawa datang dengan penghormatan oleh semua punggawa kerajaan. Kemegahan negara hastina seakan tidak ada yang menandinginya, dimana semua material bangunan dibua dengan indah , dengan kayu pilihan yang diukir sedemikian rupa hingga membuat semua yang memandang terkesima. Arca atau patung yang menghiasi kerajaan sangat detail, seolah hidup dan ikut menyambut pertemuan besar di pendopo agung negara hastina, para penari bedaya yang bersiap untuk upacara kehadiran raja bersiap dengan bunga-bungan yang segar dan wangi. Para punggawa begitu banyaknya hingga memenuhi pendopo agung dan di halaman pendopo, sangking banyaknya para prajurit sampai terlihat seperti lautan. Sang raja prabu detarastra duduk disinggasana kerajaan yang terbuat dari emas, setelah prabu pandu gugur ia menitipkan pesan kepada kakaknya yaitu menitipkan kerajaan hastina dan  harta yang paling berharga yaitu anak-anaknya kepada destarastra kakaknya. Pagi itu adalah pertemuan besar, sang raja memanggil semua anaknya kurawa dan pandawa, serta para punggawa kerajaan hastina. Karena destarastra buta ia menyuruh para pandawa mendekat untuk diraba wajahnya, ia pun menangis saat meaba wajah arjuna karena diantara kelima saudara arjuna memiliki wajah yang paling mirip dengan pandu,  setelah melihat para pandawa ternyata sudah dewasa dan cukup umur untuk menduduki tahta , maka sang raja besar negara hastina tersebut segera memberikan sabda kepada semua yang hadir bahwa ia akan turun tahta karena yang menjadi raja sebelumnya adalah pandu maka saat pandu meninggal yang menggantikannya adalah para pandawa, dan destarastra hanya menjadi wakil karena para pandawa saat itu belum cukup umur untuk menduduki tahta kerajaan. Dan sekarang sudah tiba saatnya untuk para pandawa menduduki tahta negara hastina, serta sang destarastra turun tahta. Dari rundingan para penasehat dan para guru maka diputuskan yang menjadi raja adalah puntadewa yaitu kakak tertua dari pandawa.

Hal ini membuat sangkuni sang maha patih yang memiliki watak licik gelisah dan tidak terima akan sabda raja tersebut. dengan akalnya yang licik ia mengusulkan karena hastina adalah kerajaan besar maka acara ini tidak boleh sembarangan dan harus dirayakan dengan besar, sembari mengulur waktu patih sengkuni membuat rencana yang licik, ia mengusulkan untuk membuat bale khusus untuk pertemuan. Celakanya usulan sangkuni itu diterima dan disetujui oleh sang raja. di bale tersebut para pandawa dan kurawa dibuatkan bale yang terpisah, sangkuni memerintahkan seorang demang dari kalangan sudra bernama purucana untuk membangun bale khusus untuk pandawa, dimana bale tersebut didesain  agar mudah terbakar saat tercium api, dengan material bahan yang mudah terbakar purucana membangun bale untuk pandawa, dan untuk para kurawa dibuatkan bale dengan bahan-bahan yang tidak mudah terbakar.

Setelah bale selesai dibangun para punggawa kerajaan serta bangsawan negara hastina segera menempati bale tersebut, pandawa dan kurawa menempati tempat yang berbeda, acara yang seharusnya segera dimulai dengan sengaja diulur-ulur dan ditunda-tunda , para korawa yang sudah dibisiki rencana jahat sangkuni ikut mengulur waktu dengan mengadakan pesta hingga larut malam. Akhirnya Setelah malam tiba para kurawa dan pandawa pun segera kembali ke bale masing-masing dan penobatan akan dilakukan esok harinya. Malam tiba, para korawa sudah tertidur pulas, namun pandawa merasa ada yang janggal, kunti puntadewa dan bima , arjuna serta kembar tidak bisa tidur karena merasa ada yang aneh, mereka tetap terjaga, kunti mengingatkan kepada bima untuk tetap terjaga jangan sampai tertidur, ternyata tidak lama kemudian si purucana segera menjalankan rencananya, ia segera membakar penginapan para pandawa, hanya dengan obor kecil api langsung membesar dan menjalar, api semakin besar dan dengan cepat menjalar keseluruh ruangan, para kurawa dan patih sengkuni yang mengetahui hal itu sengaja berpura-pura tidak tau dan tetap berada didalam bale dan tidur dengan nyaman. Sangkuni yang licik keluar dari kamarnya ia menemui purucana, dan tanpa diduga sangkuni menusuk purucana dari belakang dan melemparkan mayat purucana ke dalam bara api untuk menghilangkan jejak. Sangkuni sudah merasa aman dan kembali kekamarnya.

Kunti dengan anak-anaknya yang terjaga terkejut melihat api yang tiba-tiba muncul dan menjalar dengan cepat, dengan sigap bima menggendong keempat adiknya dan ibunya, dan menyelamatkan diri, ia menggendong kadua adiknya di tangan kiri dan arjuna serta puntadewa di tangan kanan, serta menggendeng kunti dipunggungnya dan menyuruh untuk berpegangan rambut bima, bima mencoba menyelamatkan diri dan keluarganya, ia melompati bara api yang besar dan berusaha keluar dari bale tersebut, namun api sangat cepat menjalar seakan tidak ada jalan keluar, namun bersamaan dengan itu muncul seekor garangan atau musang berwarna putih yang seakan menujukkan jalan keluar untuk para pandawa, musang itu menggali tanah dan membuatkan jalan untuk menyelamatkan para pandawa,

Ternyata garangan itu membawa para pandawa ke khayangan saptapertala yaitu khayangan dibawah tanah milik sang antaboga penguasa bumi. Setelah sampai di khayangan saptapertala garangan itu berubah ke wujud aslinya yaitu batara antaboga, para pandawa tidak pernah mengira akan diselamatkan oleh dewa yang menguasai bumi.  disana batara antaboga menjelaskan bahwa putrinya bernama nagagini bermimpi bertemu dengan lelaki idamannya dan ingin dinikahkan dengannya, setelah diselidiki ternyata lelaki itu tak lain adalah bima yang tengah sengaja dibakar di bale gala-gala oleh saudaranya tersebut. para pandawa mengucapkan terima kasih dan dengan restu ibunya bima menikahi naga gini dan para pandawa berterimakasih atas pertolongan yang diberikan oleh batara antaboga hingga mereka masih bisa terselamatkan meski dalam keadaan yang begitu mendesak seperti itu. Dan setelah beberapa lama mereka mohon pamit karena masih ada darma yang harus diselesaikan, masih ada tugas sebagai seorang kesatria yang harus dikerjakan. Kunti dan para pandawa segera meninggalkan khayangan sapta pertala, mereka ingin mengasingkan diri di hutan, kepada batara antaboga kunti dan pandawa berterimakasih dan berpamitan, dan Kepada naga gini bima pamit serta berpesan kepada naga gini, jika anaknya dengan bima nanti telah lahir maka bima meminta anak tersebut diberinama antareja. Setelah itu kunti dan para pandawa segera kembali kedunia atas, mereka mengasingkan diri dihutan dan sengaja menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali ke negara hastina.


Oleh : Riyadi Setyawan S.Sn

Share:

0 komentar:

Posting Komentar